<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845</id><updated>2011-12-27T21:01:50.093-08:00</updated><title type='text'>Sapere Aude!</title><subtitle type='html'>Andai kata kita semua sadar bahwa sejengkal dari setiap peristiwa 
selalu membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan, maka kita akan mengerti rahasia-rahasia 
besar Tuhan yang ia selipkan dalam hidup kita sehari-hari.So "BERANILAH BERPIKIR SENDIRI!"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-4997636883220295596</id><published>2011-12-27T21:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T21:01:50.104-08:00</updated><title type='text'>Hujan Part II</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;Jika hujan datang kata sebagain orang sukacita datang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;hujan yang telah datang bagi sebagaian orang adalah kemalangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;andaikata hari ini tidak datang hujan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;ah...hujan memang selalu tidak tepat datangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;kok jadi ngawur ya puisi di siang bolong ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;mau berkeluh kesah karena hujan datang aja kok susah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;yang penting point utamanya hujan membuat saya gagal hunting foto.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&amp;nbsp;12.00 AM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-4997636883220295596?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/4997636883220295596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=4997636883220295596&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/4997636883220295596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/4997636883220295596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2011/12/hujan-part-ii.html' title='Hujan Part II'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-2908712346918717545</id><published>2010-10-17T17:36:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T17:40:49.662-07:00</updated><title type='text'>Short Story</title><content type='html'>DI BAWAH BENINGNYA SENJA AKU MENANTI&lt;br /&gt;Oleh: Aprina Pinem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kita merasa bahwa kebetulan hanyalah kebetulan semata, tanpa arti dan lewat begitu saja. Bagi seseorang yang  membutuhkan sesuatu kebetulan terkadang adalah sebuah keberuntungan. Bagi ia yang taat pada Tuhan kebetulan adalah hadiah terindah dari Tuhan. Bagi orang yang jatuh cinta kebetulan adalah sebuah kerinduan yang selalu menuntut untuk terulang kembali. Sore itu seperti biasanya untuk menghilangkan rasa suntuk di hati karena bosan dirumah terus aku pergi bertiga dengan Ainruk dan Adirpy. Kawan yang selalu memberi warna dalam hidupku. Kami bertiga pergi ke Belulus Liver tempat pemandian alami dibawah kaki gunung Pangroro. Airnya yang jernih membuat tempat ini selalu penuh dan padat ketika akhir pekan, lebih-lebih ketika sore hari.&lt;br /&gt;Ikan bakar yang dijual di kedai-kedai itu juga terkenal enak rasanya. Aku pernah makan dan rasanya begitu nendang di perut dan dilidah terasa bergetar. Belum lagi ditambah sambal pedas yang rasanya membuat mulut tidak bisa berhenti mencecap sampai tulang-tulangnya. Tempat ini adalah tempat yang paling menarik hati banyak orang, disini pula kita sering menjumpai tulisan-tulisan pada dinding-dinding batu yang pejal nama-nama dan ungkapan kasih serta tanggal-tangal tertentu. Kurasa semua itu adalah tanggal jadian muda-mudi yang sering mengikat janji di sini. Sekilas aku membayangkan andai saja aku punya pacar akan kuajak kesini untuk menuliskan sebaris lirik kisah cinta sebagai tanda yang bisa dikenang, tapi sayang aku tidak punya.&lt;br /&gt;“ Hoi dodol, ngapain bengong sendiri” suara Adirpy membuyarkan lamunan indahku.&lt;br /&gt;“Ah…. Jadi basah nih…pakai siram-siram segala lagi” &lt;br /&gt;“ Ye… begitu saja sudah BBM..” seru Ainruk “BBM apaan tu?” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;“ Begityu….Begityu..marah….”. kata mereka serantak sambil tertawa lebay.&lt;br /&gt;“Ah lebay…..lebay…. gak tahu orang lagi asik sendirian” kataku sedikit kesal. Aku pergi menjauh dari mereka. Aku bilang pada mereka aku ingin sendiri sebentar. Kulanjutkan lamunanku sambil memasukkan kakiku di dalam air. Merasakan dinginnya air ini hatiku menjadi sejuk dan membuat otak ku semakin liar berfantasi, berandai-andai jika aku menemukan pujaan hati. Ku ingat lirik lagunya Bondan yang so sweat  banget. Andaikata aku menemukan dia. Ah sudahlah semoga mimpi ini semua terjadi, toh belum berakhir. Apapun yang terjadi aku pasti akan mendapatkan. Terhanyut dalam lamunan yang dalam tak terasa sandal yang kupakai hanyut terbawa arus. Sialan pikirku, kukejar sandal itu karena sungainya tidak terlalu dalam tetapi arusnya terlalu deras. Sampai diujung tepian berbatu tiba-tiba aku tertumbuk sesuatu. Aku tidak tahu karena aku menundukan kepala sehingga tidak tahu apa yang ada di kiri atau kananku. &lt;br /&gt;“ aduh….” Rintihku sambil terkejut.&lt;br /&gt;“ Kamu tidak apa-apa? ” tiba-tiba ada suara dan aku secara refleks mengangkat kepalaku dan mataku tertumbuk pada mata seorang laki-laki dengan mata bening sebening air sungai ini.&lt;br /&gt;“ Ini sandalnya….lain kali hati-hati, atau lebih baik dilepas saja sandalnya nanti hanyut, airnya deras.” aih suara itu, jernih sekali, jernih sejernih mata yang kutatap tadi. Aku tak kuasa menahan rasa yang tidak bisa kukatakan aku langsung saja meninggalkan tempat itu tanpa membalas dengan kalimat lebih lanjut. Aku hanya mengucapkan terima kasih. Aku menunju ke tempat kedua temanku dan langsung mengajak mereka pulang. Aku tidak menceritakan kepada mereka mengenai kejadian itu. Masih kuingat dengan jelas tergambar, terpatri dalam imajiku mata bening itu. Ajakanku untuk pulang ternyata tidak dituruti mereka, karena mereka masih asik menikmati riak-riak air sungai. Aku memaksa mereka untuk pulang dengan mengancam akan membasahi baju mereka.&lt;br /&gt;Sampai dirumah lama sekali aku memandangi diriku di depan cermin, mencubit pipiku, dan ternyata sakit. Ternyata aku tidak bermimpi. Ah mata bening itu tak bisa hilang dari pikiranku. Hari-hari berikutnya aku selalu merasa bahwa hidupku memiliki sesuatu yang baru. Aku melangkah ke sekolah dengan sukacita dan setiap hari selalu mengajak kedua sahabatku untuk pergi ke Belulus Liver. Aku ingin merasakan kehadiran mata bening itu. Bagaikan rusa merindukan air aku rindu pada jernihnya mata dan suara yang meyapaku kemarin. Sampai di Belulus Liver aku duduk ditempat biasa, berharap aku berjumpa dengan pemilik mata itu.&lt;br /&gt;“ nagapain sih kita disini… kemarin kesini, sekarang kesini, besok pasti kesini…sudah kesurupan begu kamu ya In?” kata Ainruk dengan nada penuh kekesalan. Aku hanya tersenyum dan mengulang kalimatku kemarin bahwa aku ingin sendiri. Akhirnya mereka menyingkir agak jauh di tepian sungai dekat kedai bang Lamhot. Lima menit berlalu belum juga muncul pemilik mata bening. Sepuluh menit berikutnya aku dikejutkan oleh suara orang bercakap-cakap di belakangku sambil memarkir kereta di samping kedai. Aih itu suara si mata bening, aku ingat sekali dan semakin dekat suara itu semakin aku takkuasa untuk menolehkan kepalaku. Selang beberapa detik aku hendak menolehkan kepalaku tiba-tiba mukaku tertutup kain. Segera aku menyingkap kain itu tetapi ada tangan yang lebih dulu mengambilnya.&lt;br /&gt;“ aduh…sorry tidak sengaja…maaf ya…lho kamu yang kemarin itu kan? Yang sandalnya hanyut ya? ..aduh maaf ya slayer ku tertiup angin” kata simata bening sambil mengulurkan tanganya. Tanpa berpikir banyak langsung saja tanganku menjabat tanganya seolah Roh Allah sedang bekerja.&lt;br /&gt;“ Adit…” “ Menivi, biasa dipanggil Me atau In” sepontan saja aku menunjukan nama panggilanku. Ah tangan ini serasa tidak mau ku lepas. Biarkan saja lengket jika perlu dilem pakai lem setan pikirku. Tetapi sebelum ia melepas tanganya temannya berdehem tanda bahwa jabat tangan ini harus diakhiri. Mukaku merah saat itu, malu rasanya. Langsung saja aku meninggalkan mereka. Setelah menjumpai dua sahabatku kami pulang karena hari sudah sore. Senja sudah hampir berganti malam. Hari-hari telah lewat dan malampun berganti pagi, aku bersama kedua sahabatku setiap hari selalu pergi ke Belulus Liver hanya untuk menanti pemilik mata bening untuk kedua kalinya atau lebih. Kedua sahabatku tidak pernah tahu. Dua hari, tiga hari, sampai satu minggu kami ke tempat dimana aku menatap mata bening sebening air di Belulus Liver, tetapi tidak juga kujumpai pemilik mata itu. Senja terus berganti setiap hari dan aku selalu datang untuk menanti beningnya mata. Mata senja yang membuat hatiku tak sabar. Dibawah beningnya senja ini aku menanti tiga belas hari. Tiga belas hari aku tanpa henti kembali dan kembali ketempat itu. Menanti dan berharap untuk bertemu suara yang tak pernah hilang dari pikiranku tetapi tidak juga kunjung datang. &lt;br /&gt;“In ada apa sih kok tumben gelisah, murung lagi, awas cepat tua lho. Ayo dong cerita ada apa? “ bujuk kedua temanku sambil penasaran. &lt;br /&gt;“ ah tidak ada apa-apa” “ ayo jujur dong! Masa sama sahabat tidak mau jujur?”&lt;br /&gt;“ eh gimana ya, maaf sebelumnya aku tidak pernah cerita pada kalian.” Aku akhirnya menceritakan semuanya pada mereka berdua. Setelah selesai bercerita mereka menyarankan untuk bertanya pada bang Lamhot pemilik kedai di situ siapa tahu ia pernah melihat. Akhirnya abang itu bercerita bahwa ia pernah melihat tetapi akhirnya ia terdiam. Setelah kami tanya mengapa diam dia manjawab. &lt;br /&gt;“ maaf dek, Adit meninggal satu minggu yang lalu. Kemarin tujuh harinya, ia meninggal karena kanker otak ak…”&lt;br /&gt;Belum sampai bang Lamhot melanjutkan ceritanya tiba-tiba ada sesuatu yang basah mengenai mukaku.&lt;br /&gt;“ aduh bangun….sudah siang…hari minggu ke gereja kita” teriak mamakku, ah ternyata aku hanya bermimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3lingga,17 Oct 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-2908712346918717545?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/2908712346918717545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=2908712346918717545&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/2908712346918717545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/2908712346918717545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2010/10/cerpenya-lompoh.html' title='Short Story'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-5333320684294005832</id><published>2010-05-07T11:14:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T11:14:38.776-07:00</updated><title type='text'>Sapere Aude!: Politik</title><content type='html'>&lt;a href="http://zardensoc.blogspot.com/2010/05/politik.html#links"&gt;Sapere Aude!: Politik&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-5333320684294005832?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://zardensoc.blogspot.com/2010/05/politik.html#links' title='Sapere Aude!: Politik'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/5333320684294005832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=5333320684294005832&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/5333320684294005832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/5333320684294005832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2010/05/sapere-aude-politik.html' title='Sapere Aude!: Politik'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-9165959744412340946</id><published>2010-05-07T11:12:00.001-07:00</published><updated>2010-05-07T11:12:37.373-07:00</updated><title type='text'>Pastoral Kaum Muda</title><content type='html'>Tantangan Pastoral Kaum Muda di Tengah Budaya Hedonisme&lt;br /&gt;Oleh: Nanang Aris K&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pengantar&lt;br /&gt; “Menjadi orang muda adalah menjadi manusia yang siap menerima apa saja yang diberikan dunia.” Begitulah kalimat yang pernah dilontarkan seorang kawan pada saya setelah ia pulang dari temu moderatores regio Jawa-Plus satu tahun yang lalu. Saya sempat berpikir apa maksud perkataan teman tersebut, mengapa orang muda harus menerima apa yang diberikan dunia? Apa yang akan dunia berikan untuk orang muda sehingga orang muda harus menerima, apakah tidak boleh menolak? Rupanya apa yang menjadi persoalan dalam kalimat teman saya itu adalah, orang muda saat ini atau nanti akan segera diserang oleh gelombang dasyat yang disebut dengan Globalisasi. Dengan begitu mudahnya orang muda akan segera terseret arus itu dan larut di dalamnya. Secara nyata yang saat ini sudah muncul adalah budaya hedonisme. Budaya dimana orang muda dibawa pada sebuah pencarian kenikmatan semata. Budaya hedonis menawarkan banyak pilihan yang sifatnya nikmat dan sesaat. Ditengah budaya semacam inilah pastoral kaum muda menjadi amat penting. Lebih  dari itu  pastoral Kaum muda juga menghadapi tantangan yang cukup berat. Hal senada juga dikatakan oleh ketua komisi kepemudaan paroki Hati Kudus Kramat Jakarta, “saya melihat kecenderungan itu ada.......tantangannya mengajak orang muda aktif terjun kemasyarakat menjadi berat karena mereka seringkali tertarik pada hal-hal yang bersifat hedonis.”  &lt;br /&gt;Dalam tulisan ini akan dipaparkan beberapa hal-hal pokok yang berkaitan dengan situasi dan tantangan pastoral kaum muda. Diantaranya siapa kaum muda itu? Mengapa pastoral kaum muda itu dipandang penting dan perlu, apa pengertian budaya Hedonisme? serta apa &lt;br /&gt;II. Siapa Kaum Muda?&lt;br /&gt;Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, kaum muda mencakup anak-anak manusia dari bawah umur 15 sampai 24 tahun. Menurut UU Perkawinan RI, tahun 1974, kaum muda meliputi para muda-mudi yang sudah melewati  umur kanak-kanak dan belum mencapai umur yang oleh UU diperbolehkan menikah: bagi pemuda minimal berumur 19 tahun dan bagi pemudi minimal berumur 16 tahun. Sedangkan dalam organisasi pemuda, kaum muda dapat mencakup semua muda-mudi yang berumur antara 15-40 tahun.  Dalam dekrit Vatikan II tentang kerasulan awam, ( Apostolicam Actuositatem art 12), memandang kaum muda sebagai kekuatan yang amat penting dalam masyarakat. Kaum muda adalah garda depan dan agen perubahan masyarakat.   Dalam Gaudium et Spes art 7 dikatakan juga  bahwa kaum muda acap kali adalah orang orang yang kehilangan kesabaran, bahkan memberontak karena gelisah. Meski demikian mereka juga menyadari bahwa mereka memiliki jasa penting dalam masyarakat.  &lt;br /&gt;Dari definisi-definisi yang tertulis diatas bisa disimpulkan bahwa kaum muda adalah pribadi yang berada dalam masa menuju sebuah perubahan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki kekuatan besar untuk bergerak maju mengadapi perubahan. Menurut Paus Yohanes Paulus II didalam diri kaum muda , ada potensi yang luar biasa untuk kebaikan dan kemungkinan kreatif.  Dalam pengertian yang sama maka pada intinya kaum muda tidak hanya masa depan, atau tonggak Gereja, melainkan kaum muda adalah masa depan Gereja itu sendiri. Merekalah simbol bahwa Gereja masih hidup, masih berdenyut dan memiliki harapan untuk tetap berkembang jauh kedepan. Tanpa kehadiran orang muda maka Gereja akan kehilangan kehidupanya bahkan akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penting dan Perlunya Pastoral Kaum Muda.&lt;br /&gt;Kaum muda adalah elemen yang menyusun kehiduan Gereja, maka kaum muda perlu mendapatkan perhatian secara khusus. Gereja senantiasa menaruh harapan pada orang muda. Oleh karena itu dalam konteks ini peran yang bisa dilakukan oleh Gereja adalah mengupayakan sebuah pendampingan kaum muda atau pastoral kaum muda. Pastoral kaum muda merupakan salah satu bentuk atau wadah dimana Gereja sunguh-sungguh memberikan perhatian untuk kaum muda. Pastoral kaum muda dipandang penting dan perlu karena; pertama inilah usaha Gereja dalam mengembangkan dan mengaktifkan kehidupan kristiani dalam kehidupan kaum muda.  Kedua,  perhatian Gereja untuk kaum muda dan usaha penyataan yang khas bahwa kaum muda adalah tanda kehadiran Gereja di tengah dunia. Ketiga, Pastoral kaum muda adalah ungkapan hakekat dan tujuan misi Gereja untuk menghadirakan/merealisasikan misi keselamatan khususnya dalam diri kaum muda.   &lt;br /&gt;Dari ketiga hal yang diungkapkan diatas sadar maupun tidak, pastoral kaum muda memiliki peran yang amat penting bagi perkembangan Gereja dan kaum muda sendiri. Pastoral kaum muda adalah salah satu cara untuk mengkikis keprihatinan Gereja selama ini atas hidup orang muda yang mudah terbawa arus dari kemajuan dunia. Dunia kaum muda adalah dunia yang penuh pencarian jati diri. Dalam situasi semacam ini kaum muda cenderung mudah sekali menerima perubahan yang datang dan ditemukan dalam pencarian akan jati dirinya. Proses ini adalah proses yang amat alamiah, namun kaum muda mempunyai kecenderungan tidak mampu bersikap kritis atas perubahan yang dijumpainya. Akibatnya kaum muda mudah terbawa arus tanpa mempertimbangkan dampak positif dan negatif atas perubahan itu.&lt;br /&gt; Selain sikap yang demikian, kaum muda dinilai masih memiliki sikap-sikap yang positif. Harapan dan perhatian atas kaum muda atas sikap positif ini juga diserukan dalam Konferensi Para Uskup Asia ( FABC). Gereja Asia digambarkan sebagai benua kaum muda. Mereka mengakui bahwa ada kebangkitan kaum muda di Asia; mereka penuh idealisme, kesadaran dan kepedulian.  Ketika peran kaum muda dalam hidup mengereja tidak hanya dibicarakan dalam lingkup Gereja lokal melainkan Gereja universal, disinilah nampak sekali bahwa pastoral kaum muda dipandang memiliki peran dan nilai yang amat penting untuk kehidupan kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Pengertian Budaya Hedonisme.&lt;br /&gt;Hidup manusia secara kodrati selalu diarahkan untuk mencari hal-hal yang menyenangkan dan mengejar kebahagiaan. Hal ini tidak bisa dipungkiri dan secara alamiah adalah hal yang amat wajar. Dalam mengejar proses ini selalu dibarengi hasrat untuk mencari kenikmatan. Kenikmatan ini bisa dalam bentuk banyak hal, bisa kenikmatan spiritual, material, intelektual, kenikmatan etis dan masih banyak kenikmatan yang lain. Pada intinya proses pencarian kenikmatan senantiasa mengerakkan segala kemampuan diri kita untuk mencapai suatu yang kita inginkan, dan pemenuhan akan nilai yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;Proses semacam inilah yang disebut dengan Hedonisme. Dalam bahasa Yunani kata kenikmatan adalah hedone. Selanjutnya dari kata ini maka muncul kata “hedonisme”. Dalam pengertian etis, hedonisme sebagai kenikmatan, khusunya kenikmatan pribadi, merupakan nilai hidup tertinggi dan tujuan utama dan terakhir hidup manusia.  Hedonisme dalam arti yang sebenarnya memiliki pengertian positif dan amat manusiawi. Sehingga bisa dikatakan tidak ada hal yang keliru dari pandangan ini. Dalam perjalananya apa yang pada hakikatnya baik ini direduksi, sehingga memiliki arti atau konotasi yang negatif. Pengertian yang baik ini berubah karena manusia memiliki kecenderungan untuk melupakan proses dari apa yang ia kejar, yaitu kenikmatan. Akibat lupa pada sebuah proses alamiah ini manusia jatuh pada sikap instan,atau dorongan untuk segera mudah dalam mendapatkan sesuatu. Maka dalam pengertian ini hedonisme mulai kehilangan maknanya.&lt;br /&gt; Fenomena yang terjadi dalam diri kaum muda juga berada dalam kerangka yang sama yaitu dalam balutan budaya hedonisme. Kehidupan kaum muda sedikit banyak sudah mulai disusupi atau diwarnai dengan budaya hedonisme dalam pengertian yang negetif. Kecenderungan untuk mencari kebahagiaan hidupnya secara instan, memilih untuk menjadi penikmat, konsumeristis adalah tanda pengaruh itu sudah masuk. Maka jika kaum muda mendapat cap mudah terburu-buru atau tidak sabar dalam kapasitas ini bisa dibenarkan. Beberapa hal yang paling menonjol saat ini adalah mentalitas kaum muda yang jatuh pada sikap tidak kritis, individualis, konsumtis, matrealistis. Maka jika diurai lebih dalam sikap-sikap itu nampak dalam ciri-ciri sebagai berikut;&lt;br /&gt;a. Ciri – Ciri dan bahaya budaya Hedonisme&lt;br /&gt;Kaum muda adalah pribadi yang rentan dan mudah terpengaruh akan hal yang baru. Dalam point ini paling tidak ada  dua ciri yang mewakili yaitu kematian sikap kritis dan individualis. Budaya hedonisme mengiring kaum muda pada kematian sikap kritis. Dari sekian banyak pertemuan kaum muda sikap tidak kritis seringkali di singgung. Kaum muda sat ini menjadi tidak kritis dibandingkan kaum muda yang hidup pada 2 atau 3 dasawarsa yang lalu. Orang muda memiliki gerak yang lambat dan kepekaan yang lamban akan situsi sosial,ekonomi dan politik. Budaya hedonisme juga membawa kaum muda pada sikap konsumeristis yang akut. Bayangkan berapa jam dalam satu minggu mereka menghabiskan watunya untuk pergi ke Mall atau pusat perbelanjaan dan berapa jam dalam satu minggu mereka menghabiskan waktunya untuk berkegiatan atau mengembangkan kereativitas pribadi? Kebiasaan konsumtif mendorong mereka untuk engan memproduksi sesuatu dan berkreativitas. Mereka lebih memilih menjadi penikmat dengan suka nonton, ngenet, belanja, konkow-konkow, atau yang paling baru kuliner dll. Sikap-sikap semacam inilah yang sedang menghimpit kaum muda saat ini sehingga kehidupan iman pun sekaan terlupakan dan terkena imbasnya.  &lt;br /&gt;Dengan kemajuan teknologi informasi atau ICT yang begitu deras situsi kaum muda semakin diperparah. Akibat globalisasi dari arus informasi ini, kaum muda menjadi cenderung untuk bersikap individualis. Mereka lebih menyukai dunianya sendiri dari pada melebur dalam kegiatan sosial yang melibatkan orang banyak, kegiatan parokial dan kegiatan masyarakat. Dampak dari inernet dan sarana komunikasi seperti HP membuat kaum muda larut dalam kenikmatan yang sesaat. Dimensi asketis atas segala produk dari teknologi informasi menjadi hilang. Yang lebih mengerikan kesadaran akan fungsi alat-alat itu sebagai sarana penunjang tidak lagi menjadi penting, seolah-oleh alat-alat itu menajdi tujuan utama. Siapa yang saat ini tidak menegnal Face book, friendster, google dan black berry? Derasnya arus informasi seolah-oleh membiaskan antara kehidupan nyata dan maya, semuanya lebur dan kabur.  Akibat lupa pada fungsi alat-alat tersebut maka muncullah paradigma baru dalam memandang hidup beriman bahkan cara memandang Tuhan. Sehingga tidak jarang praktek kehidupan spiritualpun dituntut untuk menyesuaikan dengan selera kaum muda. Kecenderungan untuk cepat mendapat sesuatu juga dipaksakan kaum muda dalam cara memandang Tuhan dan memperdalam hidup rohaninya. Semuanya didasarkan pada keuntungan dan kerugian, suka dan tidak suka, nikmat dan tidak nikmat. Padahal yang paling esensial adalah  membangun sikap iman pada Allah sendiri tanpa ada embel-embel seperti diatas. Jika demikian hidup rohani atau nilai-nilai iman diibaratkan sebagai pasar yang harus memiliki nilai jual, dikemas secara menarik untuk kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Tantangan Pastoral Kaum Muda dan Beberapa Strategi Yang Bisa Dilakukan.&lt;br /&gt;Dari beberapa persoalan pokok yang muncul dalam budaya hedonisme maka yang menjadi hambatan terberat dalam pastoral kaum muda adalah sebagai berikut: Pertama akibat dari lemahnya budaya kritis kaum muda, pastoral kaum muda ditantang untuk mencari bentuk pastoral yang mampu membangunkan kembali budaya kritis dalam diri kaum muda. Hal yang paling mendasar khususnya yang berkaitan dengan sikap yang inovatif, produktif dan kreatif  perlu mendapat perhatian. Sikap-sikap ini hendaknya dibangun supaya mampu membangun sikap kritis dalam diri kaum muda. Selain itu bisa diarahkan juga dalam usaha mengembangkan sikap dan kehidupan rohani, sehingga eleman rohani dalam hidup beriman sungguh hadir. Kedua  derasnya arus informasi yang begitu memepengaruhi kehidupan kaum muda membuat pastoral kaum muda harus bisa menyesuaikan lebih keras dengan kehidupan kaum muda. Sebisa mungkin pastoral kaum muda  juga  memanfaatkan sarana komunikasi dengan segala perkembanganya untuk mendukung sarana pastoral. &lt;br /&gt;Dalam pesan komunikasi sosial sedunia ke 43 Paus Benediktus XVI, mengatakan  bahwa sebisa mungkin  teknologi baru  membantu manusia untuk berelasi dan memajukan budaya menghormati, dialog dan persahabatan. Daya dasyat media baru ini telah digenggam kaum muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian diantara individu. Lewat media baru ini orang-orang muda manjalin relasi  dengan teman-teman baru, membangun paguyuban dan jejaring.  Meski demikian Paus juga mengingatkan supaya kita tidak terpukau dengan kecangihan dan nilai positif dari kemajuan media baru ini. Secara khusus Paus mengatakan kepada kaum muda yang memiliki hubungan sepontan dengan sarana baru komunikasi supaya bertanggung jawab juga terhadap evangelisasi, melalui benua digital ini. Ketiga akibat budaya hedonisme yang cenderung membawa kaum muda pada kenikamtan dan sikap-sikap konsumeristis dan individualistis kaum muda kehilangan sikap asketis atau ugahari. Sikap ini dipandang perlu karena mampu mengatasi kelekatan atau keterikatan pada sarana-sarana yang dihasilkan oleh media komunikasi. Sikap asketis menjadi cara untuk memberi kesadaran baru pada fungsi alat-alat komunikasi sebagai sarana bukan sebagai tujuan. Tujuan dari kehidupan kaum muda adalah menemukan Tuhan sebagai satu-satunya pegangan dalam hidupnya dan menjadikan dirinya tanda kehadiran Gereja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Startergi Pastoral&lt;br /&gt;Istilah startegi dimaksudkan sebagai  pengarahan atau dasar pembinaan kaum muda. Maka ada dua hal besar yang menjadi acuan utama. Dua hal tersebut meliputi: pertama  pembinaan kaum muda sendiri dan yang kedua adalah pembinaan bagi pembina kaum muda. Mengapa dipilih dua hal ini? Hal ini dipilih karena dua hal ini adalah unsur yang mendasar yang  berkaitan erat dalam proses pastoral kaum muda. &lt;br /&gt;Strategi pastoral yang ditawarkan pertama-tama diarahkan pada kaum muda sendiri. Dalam kerangka ini, maka strategi yang harus dibangun untuk pembinaan kaum muda adalah pertama-tama harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi kaum muda sediri. Yang pertama perlu dilakukan adalah pemetaan situasi.   Dalam proses pemetaan situasi ini yang perlu dicatat adalah mengenai bagaimana situasi kehidupan kaum muda, latar belakang, dan keadaan sosio kulturalnya. Pembinaan ini harus diarahkan pada pengalaman kaum muda sendiri, maka sifatnya adalah dialog atau reflektif, bukan indoktrinasi.  Konkritnya kaum muda tidak dibina dalam kerangkan sebagai objek tetapi sebagai objek. Kegaiatan yang menunjang misalnya; nonton film bersama dan refleksi, baksos ala kaum  muda, menerbitkan majalah orang muda dalam sekup kecil dll. Pada intinya bentuk pastoral ini bisa dikemas dalam selera orang muda tetapi perlu diberi isi yang berkaitan dengan iman. Megemas antara iman dan kehidupan kaum muda dalam hidup konkrit memang tidak mudah maka perlu diupayakan dari pengalaman kaum muda sendiri. Kaum muda harus dirangsang untuk memiliki inisiatif pada bentuk pembinaan dan kebutuhan mereka.&lt;br /&gt;Strategi pastoral yang kedua diarahkan pada pembinaan pembina kaum muda. Pembina perlu mendapat pembinaan supaya mampu menangkap situasi dan perubahan dalam diri kaum muda. Pembina harus pandai dalam membaca kehidupan orang muda. Ia tidak sekedar mendampingi. Tetapi juga menjadi teman dan patner dalam mengatasi persoalan-persoalan kaum muda.  Konkritnya  pembina kaum muda harus mengupayakan satu bentuk kehidupan yang khas untuk orang muda, yaitu kehidupan komunitas. Komunitas dipandang perlu untuk membina kaum muda, kerena melalui komunitas kaum muda berkumpul, berdoa, dan mengenal pribadi yang lain. Lewat sebuah komunitas pembina menjadi sarana untuk mencurahkan persoalan dan pengalaman kaum muda. Maka perlu tempat dan situsi yang mendukung. Komunitas menjawab kerinduan kaum muda untuk menajdi tempat berbagi, membendung sikap individualis dan menciptakan elemen kreatif dan inovatif. &lt;br /&gt;Komunitas  adalah jawaban untuk apa yang dibutuhkan orang muda.  Strategi ini mempu mengarahkan hidup kaum muda pada dimensi-dimensi rohani. Intergralisasi antara hidup dan iman harus dibangun. Iman membantu mengatasi dan mengarahkan persoalan-persoalan hidup. Iman juga memberi arti dalam hidup. Kesadaran bahwa mereka adalah anggota Gereja, tanda dan sarana yang menghadirkan Kristus nampak dalam hidup komunitas. Selain komunitas bentuk-bentuk model pastoral yang lain juga perlu dikembangkan untuk menunjang keberhasilan pembinaan kaum muda. Untuk para pembina kaum muda disarankan untuk selalu belajar dan berkumpul dengan pembina kaum muda dari tempat lain supaya memperkaya dirinya dalam pendampingan. Pendamping harus menjadi pribadi yang netral dan tidak memiliki kecenderungan yang sama dengan yang dialami kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Relevansi &lt;br /&gt;Sadar maupun tidak sadar ternyata pastoral kaum muda amat dibutuhkan. Pastoral kaum berusaha  mengarahkan hidup kaum muda pada pengenalan akan pribadi. Lebih dari itu secara khusus juga harus  mengarahkan  pada dimensi rohani sebagai umat beriman. Kaum muda dipandang sebagai tanda kehadiran Allah di dunia. Maka pembinaan kaum muda tidak melulu diarahkan pada pengenalan diri tetapi juga iman.  Tetapi  harus merupakan perpaduan antara iman dan hidup, yaitu bahwa iman memberikan orientasi tetap dalam proses pembentukan diri dan kepribadian. Pastoral kaum muda menjadi cara yang paling mudah untuk mendekati dan mengerti kehidupan kaum muda. &lt;br /&gt;Oleh karena itu persoalan kehiduapan kristiani sebenarnya juga dapat dipetakan dan di lihat dalam kaca mata kehidupan kaum muda.  Dari pengamatan pastoral kaum muda kita juga dapat memetakan persoalan yang  terjadi juga dalam kehidupan kaum religius. Persoalan yang terjadi dalam diri kaum muda saat ini dialami pula para religius. Kamajuan teknologi informasi sedikit banyak juga membuat kehidupan kaum religius berada pada titik-titik kemunduran. Padahal religius adalah calon-calon atau bahkan pembina kaum muda. Jika calon atau pembina kaum muda juga mengalami persoalan yang sama dengan apa yang dialami kaum muda, lalu siapa yang akan mengarahkan kaum muda dan menjadi tanda kehadiran Gereja? Maka sebenarnya pastoral kaum muda juga menjadi sarana refleksi bagi hidup religius dijaman ini.   &lt;br /&gt;Tantangan-tantangan pastoral kaum muda juga menjadi tantangan dalam hidup para religius. Oleh karena itu nilai-nilai yang terdapat dalam pastoral kaum muda pada akhirnya tidak hanya diarahkan pada kaum muda saja tetapi juga untuk orang banyak pada jaman ini. Kesadaran bahwa nilai iman sebagai sesuatu yang esensial, harus kembali dipulihkan dan dinyalakan. Kesadaran akan fungsi alat-alat dan kemajuan dunia sebagai sarana dalam menunjang hidup hendaknya dibangun supaya budaya hedonisme semakin menyebar.&lt;br /&gt;Tulisan ini secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa tantangan pastoral kedepan tidaklah ringan dan harus menghadapi berbagai bentuk budaya-budaya baru yang sedang berkembang, seperti hedonisme. Dampak dari hedonisme adalah matinya sikap kritis dan muncul sikap individualis. Oleh karena itu kesadaran akan nilai iman harus mulai dibangun dalam diri kaum muda, dengan memulai menyusun startegi pastoral yang komprehensip. Startegi ini paling tidak dapat diarahkan pada dua hal yang paling mendasar, pembinaan kaum muda sendiri dan pembinaan pembina kaum muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bacaan&lt;br /&gt;B.S Mardiatmadja, “ Beberapa Catatan Teologis Sekitar Masalah Kaum Muda” dalam Jurnal Orientasi, Bergumul Dengan Masa Depan, Yogyakarta: Kanisius,1985.&lt;br /&gt;Dan, Gomez, Filipe, “The FABC and Youth dalam East Asian Pastoral Review”, no 1, Vol XXII, 1985.&lt;br /&gt;Dok FABC 1970-1991, KWI: Jakarta ,1995 .&lt;br /&gt;Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardiwiryana, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1993.&lt;br /&gt;Firmanto ,A. Deny (ed),OMK Indonesia dalam Pusaran Globalisasi, Malang: STFT Widya Sasana 2007.&lt;br /&gt;Mangunhardjana, A. Isme-Isme dalam Etika dari A-Z, Yogyakarta: Kanisius. 1997.&lt;br /&gt;Mangunhardjana, A.M. Pendampingan Kaum Muda, Yogyakarta: Kanisius,1986.&lt;br /&gt;Novita, Martha dkk, OMK Kurang Terlibat, dalam majalah Hidup No.13, Thn ke-63, 29 Maret 2009.&lt;br /&gt;Pesan Paus Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia ke-43, dengan tema “Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan”.Komsos KWI, 24 Mei 2009.&lt;br /&gt;Prihatanto, Kukuh, M.A.P; Mimbar, Altar, Pasar, Yogyakarta: Lamarera.2007.&lt;br /&gt;Shelton, Charles M.Moralitas Kaum Muda,Yogyakarta:Kanisius,1988&lt;br /&gt;______________Spiritualitas Kaum Muda, Yogyakarta:Kanisius,1987&lt;br /&gt;Widodo ,Adi Sapto dalam diktat Pastoral kaum muda bagian I, 2009&lt;br /&gt;Yohanes Paulus II, Melintasi Ambang Pintu Harapan , Jakarta: Obor,1995.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-9165959744412340946?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/9165959744412340946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=9165959744412340946&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/9165959744412340946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/9165959744412340946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2010/05/pastoral-kaum-muda.html' title='Pastoral Kaum Muda'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-3557614266199045055</id><published>2010-05-07T11:10:00.001-07:00</published><updated>2010-05-07T11:10:06.322-07:00</updated><title type='text'>Politik</title><content type='html'>Politik dan Banalitas Korupsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhir-akhir ini kita semua dipaksa untuk menikmati segala polemik negeri kita yang disuguhkan oleh media, baik cetak maupun elektronik. Informasi mengenai ketimpangan hukum mulai dari Prita, mbok Minah sampai KPK, dan yang paling hangat adalah sajian mengenai makelar kasus menjadi “makanan” keseharian kita. Jika boleh mengatakan dengan jujur sepertinya nasi yang menjadi makanan pokok kita sudah tidak enak lagi rasanya karena digantikan dengan informasi yang membuat perut ini menjadi mual. Jika kita bertanya lebih mendalam apa sebenarnya yang terjadi dengan seluruh adegan politik di negeri kita ini? Mengapa pula kita semua mulai dari tukang becak sampai akademisi begitu terhanyut dalam pembicaraan seperti yang diberitakan dalam media dan apa alasan kita terlibat didalam persoalan yang sebenarnya bukan menjadi urusan kita? Inilah setidaknya pertanyaan yang masih terhampar dalam pikiran saya. Rasanya tidak ada untungnya menguras pikiran untuk hal-hal yang berada di luar ranah kehidupan kita yang setiap hari masih bingung untuk mencari makan, mencari biaya sekolah untuk anak dan menyelesaikan pekerjaan yang jauh lebih mendesak. &lt;br /&gt; Sayangnya pertanyaan saya ini buru-buru meminta jawaban dan terpaksa saya harus mencari jawaban. Jawaban yang saya peroleh ternyata persoalan yang ada di negeri ini adalah persoalan politik yang amat pelik dan secara langsung menyangkut kita semua sebagai warga negara. Persoalan politik adalah persoalan kita bersama karena bertautan dengan segala bentuk tata kehidupan kita dalam suatu negara. Politik berakar dari peradaban Yunani yang artinya sebagai tata hidup bersama di dalam polis. Maka konsekuensinya segala apa yang kita sebut politik baik dalam pemerintahan atau keseharian kita, selalu diarahkan dalam kerangka hidup bersama dan kebaikan bersama. Karena kita menjadi bagian dari polis maka jika di sekitar kita terjadi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan tata hidup bersama dengan sendirinya kita ikut berpikir dan mencari solusi bersama supaya terwujud tata hidup yang lebih baik.&lt;br /&gt; Kenyataan bahwa sebagian dari kita telah bekerja keras dalam kapasitas masing-masing untuk turut berpikir dengan segala pernak-pernik persoalan negeri ini patut diapresiasi, tetapi apakah itu sudah cukup membawa pada perubahan yang lebih baik? Inilah kiranya pertanyaan kritis yang  saya ajukan. Sungguh suatu kegembiraan bahwa sebagai warga negara kita semua turut berpikir untuk mengatasi itu semua, tetapi sesungguhnya negara tidak hanya membutuhkan sebuah hasil pikiran tetapi juga sebuah tindakan. Sangat disayangkan bahwa kita sudah begitu keras berpikir tetapi tidak juga terwujud dalam tindakan. Pikiran hanya berhenti pada wacana teoritis yang tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan negeri ini. Bukti yang amat jelas adalah pemerintah kita menyerukan pemberantasan korupsi. Disana sini diserukan untuk jangan pernah korupsi, menindak tegas koruptor dan kabarnya di sekolah-sekolah akan dimasukan kurikulum khusus tentang korupsi, namun itu semua belum terwujud. Korupsi akhir-akhir ini menyeruak dan menghantam segala pondasi hukum di negeri kita, masihkan kita hanya terus berbincang dalam wacana dan teori-teori? Korupsi adalah persoalan yang konkrit yang harus diatasi dengan tindakan yang serius. Alasanya sederhana, karena korupsi adalah suatu realitas yang banal (meminjam istilah Hannah Arendt).&lt;br /&gt;Banalitas Korupsi&lt;br /&gt; Korupsi adalah realitas yang banal. Dimana letak banalitasnya? Letaknya amat jelas yaitu pada maraknya praktek korupsi yang sudah amat biasa dilakukan.  Orang menjalankan praktek korupsi tanpa berpikir lagi, tanpa perasaan bersalah, seakan hanya menjalankan aktivitas biasa-biasa saja (Basis No 03-04/Maret-  April 2007). Praktek korupsi seolah-oleh seperti kita mandi tiga kali sehari yang sudah menjadi rutinitas alamiah yang tanpa kita sadari kita pasti melakukan. Banalitas korupsi adalah suatu yang sungguh berbahaya, bagaikan hama yang sulit dibasmi, bahkan kebanyakan orang mengatakan sudah menyatu dengan darah dan daging. Analogi ini mau mengatakan dengan jujur bahwa sesungguhnya korupsi sudah begitu sulit untuk diatasi. Korupsi bahkan telah menjadi titik nyaman atau comfort zone (Kompas, 17/04/2010). Korupsi yang dulunya minoritas kini telah menjadi mayoritas, sehingga orang-orang yang secara minoritas memiliki nurani, kini harus tunduk pada yang mayoritas. &lt;br /&gt; Ketika korupsi ini menjadi mayoritas dan dengan satu suara, hati nurani kita sepakat untuk diam lantaran muak dengan anjuran moral dan agamis yang berupa wacana-wacana etis apa yang harus kita kerjakan? Akankah kita terus tunduk pada hati nurani kita yang dengan sengaja kita tumpulkan?  Naif sekali jika kita hanya diam saja melihat korupsi mengurita dalam daging dan seluruh lapisan hidup kita. Dari akarnya banalitas korupsi didiagnosa terjadi karena orang-orang sudah kehilangan kesadaran. Banalitas semacam ini muncul bukan pertama-tama karena kemerostan moral tetapi karena kebanyakan orang sudah kehilangan kesadaran. Masih menganut apa yang dipikirkan Hannah Arendt bahwa karena hilangnya kesadaran maka banalitas terjadi. Kesadaran menjadi sanggat penting artinya karena tidak hanya mendorong orang bersikap etis tetapi juga menentukan manusia untuk dapat bertindak. Bertindak tidak melulu sekedar berbuat karena fungsi, dan apa yang harus dikerjakan. Bertindak pertama-tama adalah aktivitas yang diawali dengan bertanya mengapa sesuatu itu dikerjakan (Hannah Arendt, Human Condition 1958). Tindakan harus selalu diarahkan pada pemberian arti dalam hidup bersama dan dalam perbedaan. Arendt menyebut seni semacam ini sebagai Politik. “ Politik itu mengenai pluralitas manusia.... politik itu berhubungan dengan kebersamaan dan keperbedaan” (Basis No 03-04/Maret-  April 2007). Politik itu tidak melulu soal wacana atau bahkan wicara, melainkan politik adalah sebuah tindakan dimana dengan kemampuan bertindaknya setiap orang memungkinkan untuk berkumpul, bertindak bersama, mengejar tujuan yang ada di dalam pikiranya, lebih-lebih yang menjadi hasrat hatinya dan selanjutnya memulai sesuatu yang baru. Politik tidak menunggu sebuah jawaban tetapi membuat jawaban yang datang, dihimpun dan ditujukan untuk kebaikan bersama. Maka dengan demikian segala  persoalan sulit akibat banalitas korupsi dapat dijawab dalam cara dan bahasa politik yang merupa dan nyata dalam tindakan. Selamat berpolitik !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Nanang Aris K  30/04/2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-3557614266199045055?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/3557614266199045055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=3557614266199045055&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/3557614266199045055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/3557614266199045055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2010/05/politik.html' title='Politik'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-1311109709241638624</id><published>2009-09-26T09:25:00.001-07:00</published><updated>2009-09-26T09:25:53.873-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;peLaCur TuhAn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak kuingat lagi berapa wanita yang telah datang padaku&lt;br /&gt; tuk sekedar bercerita tentang suaminya&lt;br /&gt;kadang hanya sekedar menumpahkan air matanya&lt;br /&gt;bahkan kadang juga menumpahkan birahinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semuanya itu tidak harus aku lakukan lewat persetubuhan&lt;br /&gt;aku sadar sebagai seorang laki-laki harus melayani semuanya&lt;br /&gt; tiadak dapat kutolak satupun dari mereka&lt;br /&gt; aku tahu bahwa yang aku makan adalah hasil keringat mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berjam-jam aku duduk bersama hingga telinga ini panas&lt;br /&gt;tapi apa boleh buat profesi yang suci katanya&lt;br /&gt; tidak pernah bisa ditinggalkan dan dilepaskan&lt;br /&gt;kecuali jika pertobatan itu datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka selalu menaruh harapannya padaku&lt;br /&gt; katanya aku obat pelega dahaga jiwa&lt;br /&gt; jika mereka tidak datang menemuiku&lt;br /&gt;akupun bersedia untuk datang dan mengetuk pintu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur&lt;br /&gt;itulah tugasku menjadi sang PELACUR TUHAN, setiap saat dan setiap waktu&lt;br /&gt;aku harus bersedia datang dan taat.1043pm070209&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-1311109709241638624?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/1311109709241638624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=1311109709241638624&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/1311109709241638624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/1311109709241638624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2009/09/pelacur-tuhan-tak-kuingat-lagi-berapa.html' title=''/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-7092328734378872401</id><published>2009-09-26T09:15:00.000-07:00</published><updated>2009-09-26T09:22:23.410-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Daun-Daun Sabda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabad yang lalu tubuh yang ringkih itu lahir&lt;br /&gt;Tanpa celana, bedak baby, tanpa cinta&lt;br /&gt;Hanya ketelanjangan yang dibawanya&lt;br /&gt;Hanya tangisan yang tersisa yang membuat miris setiap hati dan telinga yang mendengarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabad yang lalu ada lelaki dan perempuan&lt;br /&gt;Bersetubuh dalam remang cahaya senja&lt;br /&gt;Sampai pagi birahi baru usai dan mulai lagi&lt;br /&gt;Betapa ingatan tak lagi penting&lt;br /&gt;Saat itu benih telah ditabur dalam rahim suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabad yang lalu Dewi Uma dan Batara Kamajaya&lt;br /&gt;Berpesiar ke nirwana dengan Andini tungganganya&lt;br /&gt;Karena birahi pula Batara Kamajawa melepas kama&lt;br /&gt;Muncratlah di samudra raya, dan benih itu suci&lt;br /&gt;Kama suci yang tak dikehendaki lahir Batara Kala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabad  yang lalu lahir tubuh ringkih diatas jerami&lt;br /&gt;Bersama kuda, sapi dan bau tak wangi&lt;br /&gt;Bukan karena birahi dan kama yang tak suci&lt;br /&gt;Gadis itu perawan murni nan suci&lt;br /&gt;Roh itu menebar benih dirahim suci nan murni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;daunMu, daunku, daun kita&lt;br /&gt;daun seabad dan sejuta masa&lt;br /&gt;dan kini yang tersisa hanya kata, cerita dan lupa&lt;br /&gt;daun sabda, daun-daun sabda, daun-daun-daun sabda, sabda-sabda yang gugur menuju Sambala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PW.St Agata050209&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-7092328734378872401?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/7092328734378872401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=7092328734378872401&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/7092328734378872401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/7092328734378872401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2009/09/daun-daun-sabda-seabad-yang-lalu-tubuh.html' title=''/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-7754333539319932882</id><published>2009-02-28T11:49:00.000-08:00</published><updated>2009-02-28T12:00:20.105-08:00</updated><title type='text'>Catatan Pojok</title><content type='html'>Catatan Pojo&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;k&lt;br /&gt;NARCISSUS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Air yang bening itu memantulkan keindahan yang luar biasa bagi wajah laki-laki ditepi danau itu. Tanpa ia sadari ia begitu mengagumi pantulan wajah di atas permukaan air itu. Ia pandangi lekat-lekat dengan penuh kekaguman. Lima ratus atau entah berapa ratus tahun yang lalu, saya lupa kapan tepatnya nama itu mulai muncul dan dipakai sebagai term mencintai diri sendiri. Kapan dan siapa yang membuat Narcissus begitu membumi di seantero jagad, bagi saya itu tidak penting, katakanlah itu sebagai sebuah lupa. Lupa kadang memang membuat orang seringkali tidak menganggap penting sebuah peristiwa yang menyejarah, tapi tak apalah, biarkan lupa melawan dirinya sendiri. Suatu ketika dalam perjalanan ke daerah terpencil dikaki gunung Banyak saya menjumpai peristiwa yang sama seperti yang dialami Narcissus. Seorang laki-laki begitu kagum bukan dengan wajah yang terpantul pada permukaan air, tetapi pada apa yang selalu tepantul dari setiap jengkal kata yang keluar dari mulutnya. Bagai seorang Resi suci yang baru turun gunung dengan membawa air kebijaksanaan yang terpancar dari mulutnya, yang merupa dalam kata-kata santun nan suci. Begitu banyak orang datang dan meminta nasehat serta saran untuk menemukan hidup yang sejati atau kaweruh begjo, atau apalah itu namanya terserah anda artikan sendiri sesuai kebutuhan masing-masing.&lt;br /&gt; Karena begitu banyak orang datang dan minta sesuatu, maka ia tak henti-hentinya memuji dirinya sendiri dalam hati, mengagumi setiap jengkal kata yang keluar dari mulutnya sebagai warta suci untuk mereka yang kurang bahagia dan tidak mengerti arti kehidupan. Seorang anak kecil, penuh ingus datang kepadanya dan bertanya&lt;br /&gt;  ” Kek, apa cih, sesungguhnya hidup dan yang diminta oleh olang-olang itu” sang Resi suci dengan bijak menjawab. “ Mereka meminta kebahagiaan dalam hidup cucuku.” &lt;br /&gt;“ Kakek mengelti hidup meleka? tapi saya tidak melihat kakek mengelti hidup kakek sendili? Saya tahu kakek seling membeli nasehat, tetapi kakek terlalu senang mengagumi kata-kata kakek cendili ”. dengan penuh kebijaksanaan kakek itu menganggap lalu kata-kata anak itu. Seringkali kata yang meluncur dalam hidup kita, setiap jengkalnya memang indah dan nampaknya suci. Tetapi apakah kata yang hanya merupa dalam kata saja patut disebut suci? Andaikata kita mengerti setiap kata dalam hidup kita, komunitas kita secara jernih. Lalu keluar, merupa dalam warna yang nyata dan mewujud dalam bentuk yang sesuai dengan potret diluar hati dan pikiran kita, tentunya kebahagiaan itu akan mudah kita tangkap dan kita temukan. Namun seringkali kita jatuh dalam rupa-rupa kata yang hanya ada dalam dirikita. Kita jatuh pada apa yang bagi kita  nampaknya suci, nampaknya benar dan nampaknya mengagumkan. Maka tidak jarang kita menjadi sang Narcissus baru yang setiap saat selalu mengagumi kata-kata kita sendiri. Andaikata kita tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang “ suci “ itu, kita mungkin akan menjadi orang yang rendah hati dan dikagumi banyak orang dan sang pencipta sendiri. Apakah sekarang kita masih akan terus berkutat dan mengagumi setiap jengkal kata yang keluar dari mulut kita dengan alasan membangun komunitas atau sesama kita?  Jika iya maka kita tidak jauh dari kebutaan dan kegelapan dalam menerima setiap jengkal peristiwa diluar diri kita.            Kenyataan yang tidak bisa kita terima pada akhirnya akan membuat hati dan pikiran kita membatu dan siap melemparkan kita kedalam jurang yang dalam, dimana hanya terdapat ratap dan kertak gigi. Pilihan untuk membuka mata dan melempar semua yang ada dalam pikiran kita, yang menjadi ukuran segala sesuatu membuat kita melihat pelangi di angkasa raya yang membuat kita terbelalak dan terbahak-bahak.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Shapira/50209”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-7754333539319932882?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/7754333539319932882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=7754333539319932882&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/7754333539319932882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/7754333539319932882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2009/02/catatan-pojok.html' title='Catatan Pojok'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-8350091814839200251</id><published>2009-02-11T09:43:00.001-08:00</published><updated>2009-02-11T09:44:52.647-08:00</updated><title type='text'>LELAH</title><content type='html'>&lt;p&gt;SAAT AKU TERTAWA.....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SAAT AKU MENANGIS SEDIH... PERASAANKU...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;AKU,,, EMBUH TERUSNO DEWE CAHHHH.. KESEL AKU...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-8350091814839200251?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/8350091814839200251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=8350091814839200251&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/8350091814839200251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/8350091814839200251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2009/02/lelah.html' title='LELAH'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6458424568225538845.post-8542479679890374358</id><published>2007-11-22T20:04:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T20:06:30.368-08:00</updated><title type='text'>Runtuhnya Identitas Tubuh Di Tenggah Badai Globalisasi</title><content type='html'>Runtuhnya Identitas Tubuh Ditengah Badai Globalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap peristiwa dalam hidup selalu dimaknai sebagai sesuatu  yang baik dan buruk. Pemaknaan akan dua hal yang berbeda ini selalu lekat dalam setiap tindakan dan cara berpikir masing-masing individu.  Berangkat dari sebuah pemaknaan akan setiap peristiwa inilah setiap individu menemukan esensi dan juga eksistensi dirinya. Keduanya dimaksudkan sebagai simbolisme akan “kesadaran dan kehadiran”. Simbolisme ini menjadi bagian dari realitas pemaknaan setiap individu, dan tidak dimaknai sebagai sesuatu yang artifisial melainkan sebagai “itu” yang real. Begituhalnya ketika kita memaknai apa yang  disebut dengan tubuh. Tubuh  yang melekat dalam cara berada setiap individu ini dimaknai sebagi sesuatu yang real, bukan yang artifisial atau simbolisme yang tanpa makna. Tubuh memiliki esensi dan eksistensi yang hendak mengatakan “kesadaran dan kehadiran”. Sehingga peristiwa yang direpresentasikan melalui tubuh, hendak mengatakan akan pentingnya sebuah kesadaran dan kehadiran, karena dua hal inilah inti realitas kita sebagai manusia.&lt;br /&gt;Dengan kata lain setiap peristiwa hidup yang kita alami tidak bisa dilepaskan dari keberadaan tubuh itu sendiri.  Ketika tubuh itu kita lepaskan dari konteks hidup kita, maka hidup itu tidak lagi menujukan esensi dan eksistensi yang real. Tidak ada lagi yang namanya  manusia.  Maka dalam tataran ini, ketika tubuh itu terlepas dari konteks peristiwa hidup kita maka yang ada adalah ketiadaan atau kematian. Dengan bahasa yang sederhana apa yang menjadi fondasi dari hidup itu pada akhirnya runtuh, porak-poranda. Tubuh itu tidak lagi memiliki identitas.  Keberadan kita selalu lekat pada apa yang kita sebut tubuh. Juga peristiwa hidup yang kita rayakan akan selalu lekat pada tubuh itu sendiri.&lt;br /&gt;Badai itu memporak-porandakan Tubuh&lt;br /&gt;            Ketika peristiwa hidup itu kita rayakan tanpa tubuh, dalam point ini yang ada adalah ketersembunyian, ketidakhadiran. Dalam cara berpikir metafisis hal ini bisa diringkas dengan menyebutnya sebagai “itu yang tidak ada”.  Jika tubuh itu tidak pernah ada lalu apa yang akan direpresentasikan dalam setiap peristiwa? Tubuh sebagai penyusun peristiwa memiliki peran yang begitu penting, tanpa tubuh tidak akan pernah tercipta ruang dan peristiwa. Akhirnya yang tertinggal dari tubuh hanyalah sebuah nama yang tidak pernah hadir, tubuh yang mengalami krisis eksistensinya, tubuh yang kehilangan identitasnya. Kini ditengah pengalaman akan tubuh yang krisis, datanglah badai yang dasyat yang memporak-porandakan identitas tubuh, badai itu bernama globalisasi. Badai globalisasi datang tanpa pernah kita sadari, karena ia menjelma menjadi rupa-rupa yang cantik, angun, glamour, dan begitu dekat dalam hidup kita. Ia muncul dalam rupa teknologi komunikasi, yang saat ini membius kita semua. Dalam hal ini globalisasi tidak lagi dilihat hanya sebagai sebuah terminologi, seperti yang dikatakan oleh Giddens, globalisasi adalah sebuah paradigma. Ia membawa visi ambivalensi  dimana didalamnya ada dua hal yang saling bertentangan. Dalam globlasisai ada dua sisi berbeda, yaitu  ‘kegembiraan’ sekaligus ‘ketragisan’. Globalisasi adalah perayaan antara dua sisi berbeda dalam hidup. Internet sebagai salah satu instrument global bisa kita jadikan contoh, dimana badai globalisasi memporak-porandakan identitas tubuh kita. Internet bukan lagi sebatas sarana untuk mencari informasi, tetapi juga sebagi instrument yang meruntuhkan tubuh kita. Ia menghancurkan makna kehadiran setiap individu. Dunianya yang maya membuat kita tidak lagi bisa membedakan mana dunia real dan maya. Realitas akan dunia seakan-akan menjadi bias. Dalam tataran ini setiap individu berada pada titik nadir karena runtuhnya identitas tubuh. Globalisasi tidak hanya membawa visi kemakmuran dalam ekonomi dan social, tetapi juga membawa orang pada pinggiran eksistensi dirinya serta kenadiran.&lt;br /&gt;De-teritorialisasi Tubuh&lt;br /&gt;            Globalisasi menjadi lebih mengerikan karena ia juga mengapus segala rupa ruang,  dimana tubuh seharusnya memiliki relasi sosial yang dekat dengan setiap individu lainya. Dalam hal ini globalisasi juga membawa “virus” baru yaitu De-teritorialisasi. Ia meniadakan ruang dalam ranah hidup manusia, manghapus batas-batas geografis, bahkan ruang dimana lokalitas yang menjadi dasar dan awal hidup setiap manusia dihapus menjadi universalitas.  Sampai pada pont ini globalisasi  membuat  ruang hidup manusia kehilangan nilai kejauhanya, sehingga yang ada hanyalah ‘kedekatan’. Kedekatan dalam arti ini adalah kedekatan yang semu karena manusia tidak secara personal bertemu dalam realitas fisik. Bercakap-cakap lewat internet dan bertatap muka dengan begitu ‘dekat’ tidak mengatakan kedekatan yang real tetapi kesemuan. De-teritorialisasi juga melenyapkan identitas tubuh manusia dari ruang individunya serta ruang sosialnya. Setelah kehilangan identitas tubuh kita dan ruang sosial, maka yang muncul adalah ruang-ruang baru yang dicipta secara artifisial. Kita  berusaha  mencipta tempat dan identitas diri dengan ruang-ruang maya, seperti Yahoo, Google, Friendster, akibatnya muncul dengan apa yang disebut tubuh – tubuh imajiner.&lt;br /&gt;Tubuh-tubuh imajiner&lt;br /&gt;             Tubuh itu adalah satu kesatuan, ia tidak pernah terbagi pada banyak ruang. Kesatuan ini adalah bagian dari esensi manusia. Sehingga tubuh itu tidak bisa dipecah menjadi lebih dari satu. Ia hanya muncul dalam makna ketunggalan sebagai simbolisme kehadiran, ada setiap manusia. Namun setelah tubuh dihantam oleh badai globalisasi, ia runtuh dan lenyap. Sehingga yang tercipta adalah kumpulan tubuh-tubuh imajiner. Tubuh imajiner adalah tubuh yang diciptakan berdasarkan mimpi, kemudian dihadirkan untuk merepresentasi tubuh yang asli. Dengan ruang maya tubuh-tubuh imajiner dengan mudah kita kontrol. Kontrol terhadap diri semacam ini tidak menghadirkan sebuah eksistensi yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Karena apa yang dikontrol bukan realitas yang sesunggunya, tetapi hanya realitas maya yang diciptakan sedemikian rupa, sehingga tampaknya hadir dalam realitas. Kita tidak bisa melepaskan ruang fisik dimana kehadiran tubuh dimaknai secara sesunggunya dalam peristiwa hidup kita. Ruang fisik yang real memang cenderung untuk tidak terkontrol tetapi justru ruang yang demikianlah yang membentuk ruang makna dalam hidup kita. Selama ini kita tidak pernah menyadari akan ruang maya dimana tubuh-tubuh imajiner kita bersemayam, sehingga seringkali ruang maya itu menjadi ekstasi bagi jiwa. Ada kemungkinan besar bahwa akan semakin banyak tubuh-tubuh imajiner yang tercipta dalam hidup kita. Satu hal yang perlu disadari, bahwa semuanya itu adalah kerapuhan karena tubuh itu tidak berdiri pada peristiwa dan ruang real dalam hidup. Tubuh imajiner adalah simbolisme tubuh yang hancur dan tanpa identitas, karena tubuh yang sesungguhnya telah diporak-porandakan oleh badai globalisasi.&lt;br /&gt;Tubuh Yang Meruang&lt;br /&gt;             Apa yang dibawa oleh badai globalisasi ternyata tidak hanya sebuah kenikmatan instant yang mempermudah kita menjalani hidup. Lebih dari itu, sesunggunya globalisasi membawa ketragisan yang amat dalam, ia meruntuhkan identitas tubuh, dan membuang ruang dimana tubuh yang real melekat dalam peristiwa yang memiliki makna.  Hanya ada satu pilihan untuk mempertahankan identitas tubuh kita ditengah ‘badai’ yang sedang melanda ini, yaitu menyadari datangnya ‘badai’ itu dan berusaha bertahan dan ‘berenang’ tanpa ikut arusnya. Globalisasi memang tidak dapat dihindari, ia sudah menjadi besar. Maka yang harus dilakukan adalah mencoba mencipta ruang-ruang real dalam tubuh dan hidup kita. Tubuh yang meruang merepresentasikan akan kehadiran dan kesadaran kita. Tubuh yang meruang mencoba membantu kita menyusun indentitas kita yang perlahan-lahan mulai runtuh. Tubuh yang meruang mengandaikan kita memiliki fondasi dimana kita bisa tetap berpijak dan menyadari eksistensi diri kita. Ruang adalah tubuh itu sendiri dan begitu sebaliknya tubuh adalah ruang yang menjadi simbol dari kehadiran dimana  setiap individu memaknai hidup dan menemukan identitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                        Agustinus Nanang Aris K.&lt;br /&gt;Mahasiswa S-1 STFT Widya Sasana Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6458424568225538845-8542479679890374358?l=zardensoc.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zardensoc.blogspot.com/feeds/8542479679890374358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6458424568225538845&amp;postID=8542479679890374358&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/8542479679890374358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6458424568225538845/posts/default/8542479679890374358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zardensoc.blogspot.com/2007/11/runtuhnya-identitas-tubuh-di-tenggah.html' title='Runtuhnya Identitas Tubuh Di Tenggah Badai Globalisasi'/><author><name>Agustinus Nanang Aris Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13821506053598132514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ORxFNpNqKEU/S_zBFFvlz7I/AAAAAAAAAGQ/tsUKV9o5z0c/s1600/semar01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
