26 September, 2009

peLaCur TuhAn

tak kuingat lagi berapa wanita yang telah datang padaku
tuk sekedar bercerita tentang suaminya
kadang hanya sekedar menumpahkan air matanya
bahkan kadang juga menumpahkan birahinya

semuanya itu tidak harus aku lakukan lewat persetubuhan
aku sadar sebagai seorang laki-laki harus melayani semuanya
tiadak dapat kutolak satupun dari mereka
aku tahu bahwa yang aku makan adalah hasil keringat mereka

berjam-jam aku duduk bersama hingga telinga ini panas
tapi apa boleh buat profesi yang suci katanya
tidak pernah bisa ditinggalkan dan dilepaskan
kecuali jika pertobatan itu datang

mereka selalu menaruh harapannya padaku
katanya aku obat pelega dahaga jiwa
jika mereka tidak datang menemuiku
akupun bersedia untuk datang dan mengetuk pintu

apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur
itulah tugasku menjadi sang PELACUR TUHAN, setiap saat dan setiap waktu
aku harus bersedia datang dan taat.1043pm070209
Daun-Daun Sabda


Seabad yang lalu tubuh yang ringkih itu lahir
Tanpa celana, bedak baby, tanpa cinta
Hanya ketelanjangan yang dibawanya
Hanya tangisan yang tersisa yang membuat miris setiap hati dan telinga yang mendengarnya

Seabad yang lalu ada lelaki dan perempuan
Bersetubuh dalam remang cahaya senja
Sampai pagi birahi baru usai dan mulai lagi
Betapa ingatan tak lagi penting
Saat itu benih telah ditabur dalam rahim suci

Seabad yang lalu Dewi Uma dan Batara Kamajaya
Berpesiar ke nirwana dengan Andini tungganganya
Karena birahi pula Batara Kamajawa melepas kama
Muncratlah di samudra raya, dan benih itu suci
Kama suci yang tak dikehendaki lahir Batara Kala

Seabad yang lalu lahir tubuh ringkih diatas jerami
Bersama kuda, sapi dan bau tak wangi
Bukan karena birahi dan kama yang tak suci
Gadis itu perawan murni nan suci
Roh itu menebar benih dirahim suci nan murni


daunMu, daunku, daun kita
daun seabad dan sejuta masa
dan kini yang tersisa hanya kata, cerita dan lupa
daun sabda, daun-daun sabda, daun-daun-daun sabda, sabda-sabda yang gugur menuju Sambala.

PW.St Agata050209

28 Februari, 2009

Catatan Pojok

Catatan Pojok
NARCISSUS

Air yang bening itu memantulkan keindahan yang luar biasa bagi wajah laki-laki ditepi danau itu. Tanpa ia sadari ia begitu mengagumi pantulan wajah di atas permukaan air itu. Ia pandangi lekat-lekat dengan penuh kekaguman. Lima ratus atau entah berapa ratus tahun yang lalu, saya lupa kapan tepatnya nama itu mulai muncul dan dipakai sebagai term mencintai diri sendiri. Kapan dan siapa yang membuat Narcissus begitu membumi di seantero jagad, bagi saya itu tidak penting, katakanlah itu sebagai sebuah lupa. Lupa kadang memang membuat orang seringkali tidak menganggap penting sebuah peristiwa yang menyejarah, tapi tak apalah, biarkan lupa melawan dirinya sendiri. Suatu ketika dalam perjalanan ke daerah terpencil dikaki gunung Banyak saya menjumpai peristiwa yang sama seperti yang dialami Narcissus. Seorang laki-laki begitu kagum bukan dengan wajah yang terpantul pada permukaan air, tetapi pada apa yang selalu tepantul dari setiap jengkal kata yang keluar dari mulutnya. Bagai seorang Resi suci yang baru turun gunung dengan membawa air kebijaksanaan yang terpancar dari mulutnya, yang merupa dalam kata-kata santun nan suci. Begitu banyak orang datang dan meminta nasehat serta saran untuk menemukan hidup yang sejati atau kaweruh begjo, atau apalah itu namanya terserah anda artikan sendiri sesuai kebutuhan masing-masing.
Karena begitu banyak orang datang dan minta sesuatu, maka ia tak henti-hentinya memuji dirinya sendiri dalam hati, mengagumi setiap jengkal kata yang keluar dari mulutnya sebagai warta suci untuk mereka yang kurang bahagia dan tidak mengerti arti kehidupan. Seorang anak kecil, penuh ingus datang kepadanya dan bertanya
” Kek, apa cih, sesungguhnya hidup dan yang diminta oleh olang-olang itu” sang Resi suci dengan bijak menjawab. “ Mereka meminta kebahagiaan dalam hidup cucuku.”
“ Kakek mengelti hidup meleka? tapi saya tidak melihat kakek mengelti hidup kakek sendili? Saya tahu kakek seling membeli nasehat, tetapi kakek terlalu senang mengagumi kata-kata kakek cendili ”. dengan penuh kebijaksanaan kakek itu menganggap lalu kata-kata anak itu. Seringkali kata yang meluncur dalam hidup kita, setiap jengkalnya memang indah dan nampaknya suci. Tetapi apakah kata yang hanya merupa dalam kata saja patut disebut suci? Andaikata kita mengerti setiap kata dalam hidup kita, komunitas kita secara jernih. Lalu keluar, merupa dalam warna yang nyata dan mewujud dalam bentuk yang sesuai dengan potret diluar hati dan pikiran kita, tentunya kebahagiaan itu akan mudah kita tangkap dan kita temukan. Namun seringkali kita jatuh dalam rupa-rupa kata yang hanya ada dalam dirikita. Kita jatuh pada apa yang bagi kita nampaknya suci, nampaknya benar dan nampaknya mengagumkan. Maka tidak jarang kita menjadi sang Narcissus baru yang setiap saat selalu mengagumi kata-kata kita sendiri. Andaikata kita tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang “ suci “ itu, kita mungkin akan menjadi orang yang rendah hati dan dikagumi banyak orang dan sang pencipta sendiri. Apakah sekarang kita masih akan terus berkutat dan mengagumi setiap jengkal kata yang keluar dari mulut kita dengan alasan membangun komunitas atau sesama kita? Jika iya maka kita tidak jauh dari kebutaan dan kegelapan dalam menerima setiap jengkal peristiwa diluar diri kita. Kenyataan yang tidak bisa kita terima pada akhirnya akan membuat hati dan pikiran kita membatu dan siap melemparkan kita kedalam jurang yang dalam, dimana hanya terdapat ratap dan kertak gigi. Pilihan untuk membuka mata dan melempar semua yang ada dalam pikiran kita, yang menjadi ukuran segala sesuatu membuat kita melihat pelangi di angkasa raya yang membuat kita terbelalak dan terbahak-bahak.

“Shapira/50209”

11 Februari, 2009

LELAH

SAAT AKU TERTAWA.....

SAAT AKU MENANGIS SEDIH... PERASAANKU...

AKU,,, EMBUH TERUSNO DEWE CAHHHH.. KESEL AKU...

22 November, 2007

Runtuhnya Identitas Tubuh Di Tenggah Badai Globalisasi

Runtuhnya Identitas Tubuh Ditengah Badai Globalisasi

Setiap peristiwa dalam hidup selalu dimaknai sebagai sesuatu yang baik dan buruk. Pemaknaan akan dua hal yang berbeda ini selalu lekat dalam setiap tindakan dan cara berpikir masing-masing individu. Berangkat dari sebuah pemaknaan akan setiap peristiwa inilah setiap individu menemukan esensi dan juga eksistensi dirinya. Keduanya dimaksudkan sebagai simbolisme akan “kesadaran dan kehadiran”. Simbolisme ini menjadi bagian dari realitas pemaknaan setiap individu, dan tidak dimaknai sebagai sesuatu yang artifisial melainkan sebagai “itu” yang real. Begituhalnya ketika kita memaknai apa yang disebut dengan tubuh. Tubuh yang melekat dalam cara berada setiap individu ini dimaknai sebagi sesuatu yang real, bukan yang artifisial atau simbolisme yang tanpa makna. Tubuh memiliki esensi dan eksistensi yang hendak mengatakan “kesadaran dan kehadiran”. Sehingga peristiwa yang direpresentasikan melalui tubuh, hendak mengatakan akan pentingnya sebuah kesadaran dan kehadiran, karena dua hal inilah inti realitas kita sebagai manusia.
Dengan kata lain setiap peristiwa hidup yang kita alami tidak bisa dilepaskan dari keberadaan tubuh itu sendiri. Ketika tubuh itu kita lepaskan dari konteks hidup kita, maka hidup itu tidak lagi menujukan esensi dan eksistensi yang real. Tidak ada lagi yang namanya manusia. Maka dalam tataran ini, ketika tubuh itu terlepas dari konteks peristiwa hidup kita maka yang ada adalah ketiadaan atau kematian. Dengan bahasa yang sederhana apa yang menjadi fondasi dari hidup itu pada akhirnya runtuh, porak-poranda. Tubuh itu tidak lagi memiliki identitas. Keberadan kita selalu lekat pada apa yang kita sebut tubuh. Juga peristiwa hidup yang kita rayakan akan selalu lekat pada tubuh itu sendiri.
Badai itu memporak-porandakan Tubuh
Ketika peristiwa hidup itu kita rayakan tanpa tubuh, dalam point ini yang ada adalah ketersembunyian, ketidakhadiran. Dalam cara berpikir metafisis hal ini bisa diringkas dengan menyebutnya sebagai “itu yang tidak ada”. Jika tubuh itu tidak pernah ada lalu apa yang akan direpresentasikan dalam setiap peristiwa? Tubuh sebagai penyusun peristiwa memiliki peran yang begitu penting, tanpa tubuh tidak akan pernah tercipta ruang dan peristiwa. Akhirnya yang tertinggal dari tubuh hanyalah sebuah nama yang tidak pernah hadir, tubuh yang mengalami krisis eksistensinya, tubuh yang kehilangan identitasnya. Kini ditengah pengalaman akan tubuh yang krisis, datanglah badai yang dasyat yang memporak-porandakan identitas tubuh, badai itu bernama globalisasi. Badai globalisasi datang tanpa pernah kita sadari, karena ia menjelma menjadi rupa-rupa yang cantik, angun, glamour, dan begitu dekat dalam hidup kita. Ia muncul dalam rupa teknologi komunikasi, yang saat ini membius kita semua. Dalam hal ini globalisasi tidak lagi dilihat hanya sebagai sebuah terminologi, seperti yang dikatakan oleh Giddens, globalisasi adalah sebuah paradigma. Ia membawa visi ambivalensi dimana didalamnya ada dua hal yang saling bertentangan. Dalam globlasisai ada dua sisi berbeda, yaitu ‘kegembiraan’ sekaligus ‘ketragisan’. Globalisasi adalah perayaan antara dua sisi berbeda dalam hidup. Internet sebagai salah satu instrument global bisa kita jadikan contoh, dimana badai globalisasi memporak-porandakan identitas tubuh kita. Internet bukan lagi sebatas sarana untuk mencari informasi, tetapi juga sebagi instrument yang meruntuhkan tubuh kita. Ia menghancurkan makna kehadiran setiap individu. Dunianya yang maya membuat kita tidak lagi bisa membedakan mana dunia real dan maya. Realitas akan dunia seakan-akan menjadi bias. Dalam tataran ini setiap individu berada pada titik nadir karena runtuhnya identitas tubuh. Globalisasi tidak hanya membawa visi kemakmuran dalam ekonomi dan social, tetapi juga membawa orang pada pinggiran eksistensi dirinya serta kenadiran.
De-teritorialisasi Tubuh
Globalisasi menjadi lebih mengerikan karena ia juga mengapus segala rupa ruang, dimana tubuh seharusnya memiliki relasi sosial yang dekat dengan setiap individu lainya. Dalam hal ini globalisasi juga membawa “virus” baru yaitu De-teritorialisasi. Ia meniadakan ruang dalam ranah hidup manusia, manghapus batas-batas geografis, bahkan ruang dimana lokalitas yang menjadi dasar dan awal hidup setiap manusia dihapus menjadi universalitas. Sampai pada pont ini globalisasi membuat ruang hidup manusia kehilangan nilai kejauhanya, sehingga yang ada hanyalah ‘kedekatan’. Kedekatan dalam arti ini adalah kedekatan yang semu karena manusia tidak secara personal bertemu dalam realitas fisik. Bercakap-cakap lewat internet dan bertatap muka dengan begitu ‘dekat’ tidak mengatakan kedekatan yang real tetapi kesemuan. De-teritorialisasi juga melenyapkan identitas tubuh manusia dari ruang individunya serta ruang sosialnya. Setelah kehilangan identitas tubuh kita dan ruang sosial, maka yang muncul adalah ruang-ruang baru yang dicipta secara artifisial. Kita berusaha mencipta tempat dan identitas diri dengan ruang-ruang maya, seperti Yahoo, Google, Friendster, akibatnya muncul dengan apa yang disebut tubuh – tubuh imajiner.
Tubuh-tubuh imajiner
Tubuh itu adalah satu kesatuan, ia tidak pernah terbagi pada banyak ruang. Kesatuan ini adalah bagian dari esensi manusia. Sehingga tubuh itu tidak bisa dipecah menjadi lebih dari satu. Ia hanya muncul dalam makna ketunggalan sebagai simbolisme kehadiran, ada setiap manusia. Namun setelah tubuh dihantam oleh badai globalisasi, ia runtuh dan lenyap. Sehingga yang tercipta adalah kumpulan tubuh-tubuh imajiner. Tubuh imajiner adalah tubuh yang diciptakan berdasarkan mimpi, kemudian dihadirkan untuk merepresentasi tubuh yang asli. Dengan ruang maya tubuh-tubuh imajiner dengan mudah kita kontrol. Kontrol terhadap diri semacam ini tidak menghadirkan sebuah eksistensi yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Karena apa yang dikontrol bukan realitas yang sesunggunya, tetapi hanya realitas maya yang diciptakan sedemikian rupa, sehingga tampaknya hadir dalam realitas. Kita tidak bisa melepaskan ruang fisik dimana kehadiran tubuh dimaknai secara sesunggunya dalam peristiwa hidup kita. Ruang fisik yang real memang cenderung untuk tidak terkontrol tetapi justru ruang yang demikianlah yang membentuk ruang makna dalam hidup kita. Selama ini kita tidak pernah menyadari akan ruang maya dimana tubuh-tubuh imajiner kita bersemayam, sehingga seringkali ruang maya itu menjadi ekstasi bagi jiwa. Ada kemungkinan besar bahwa akan semakin banyak tubuh-tubuh imajiner yang tercipta dalam hidup kita. Satu hal yang perlu disadari, bahwa semuanya itu adalah kerapuhan karena tubuh itu tidak berdiri pada peristiwa dan ruang real dalam hidup. Tubuh imajiner adalah simbolisme tubuh yang hancur dan tanpa identitas, karena tubuh yang sesungguhnya telah diporak-porandakan oleh badai globalisasi.
Tubuh Yang Meruang
Apa yang dibawa oleh badai globalisasi ternyata tidak hanya sebuah kenikmatan instant yang mempermudah kita menjalani hidup. Lebih dari itu, sesunggunya globalisasi membawa ketragisan yang amat dalam, ia meruntuhkan identitas tubuh, dan membuang ruang dimana tubuh yang real melekat dalam peristiwa yang memiliki makna. Hanya ada satu pilihan untuk mempertahankan identitas tubuh kita ditengah ‘badai’ yang sedang melanda ini, yaitu menyadari datangnya ‘badai’ itu dan berusaha bertahan dan ‘berenang’ tanpa ikut arusnya. Globalisasi memang tidak dapat dihindari, ia sudah menjadi besar. Maka yang harus dilakukan adalah mencoba mencipta ruang-ruang real dalam tubuh dan hidup kita. Tubuh yang meruang merepresentasikan akan kehadiran dan kesadaran kita. Tubuh yang meruang mencoba membantu kita menyusun indentitas kita yang perlahan-lahan mulai runtuh. Tubuh yang meruang mengandaikan kita memiliki fondasi dimana kita bisa tetap berpijak dan menyadari eksistensi diri kita. Ruang adalah tubuh itu sendiri dan begitu sebaliknya tubuh adalah ruang yang menjadi simbol dari kehadiran dimana setiap individu memaknai hidup dan menemukan identitasnya.

Agustinus Nanang Aris K.
Mahasiswa S-1 STFT Widya Sasana Malang